Friday, July 21, 2017

Resensi Buku “Adversity Quotient, agar anak tak gampang menyerah” by Miarti Yoga

Judul: Adversity Quotient, Agar Anak Tak Gampang Menyerah
Penulis: Miarti Yoga
Tahun: 2016
Penerbit: Tinta Medina, Solo
Sumber gambar: www.dutailmu.co.id
Buku ini memaparkan bagaimana pentingnya Adversity Quotient bagi anak. Pada umumnya orang tua lebih mementingkan IQ dibandingkan AQ. Padahal IQ tanpa AQ akan menghasilkan anak pintar tapi saat bertemu dengan permasalahan, anak tidak bisa bertahan untuk memecahkan permasalahannya. Pada akhirnya anak pun memiliki sifat ingin segala sesuatunya serba instan dan mudah, bisa diselesaikan dengan cepat tanpa membutuhkan perjuangan.

Dalam buku ini kita juga dibuka wawasan, bagaimana pentingnya menanamkan disiplin dan tanggung jawab untuk menghasilkan karakter anak yang tangguh dan militan. Anak kurang pintar, tapi kalau ia memiliki daya juang yang tinggi (AQ tinggi), pada akhirnya akan mampu mengalahkan anak yang ber-IQ tinggi. Anak ber-AQ tinggi merupakan tipe anak climbers, ia tidak akan pernah puas dengan pencapaian prestasi yang sudah diraihnya, ia akan terus mendaki hingga puncaknya prestasinya, tapi bukan dunia, melainkan puncak prestasi di akherat, yaitu surga. Berbeda halnya dengan anak hanya ber-IQ tinggi, ia akan mampu memecahkan hampir setiap permasalahan. Namun permasalahan-permasalahan yang ia pecahkan merupakan permasalahan yang ia sendiri telah memiliki kapasitas untuk memecahkan permasalahan tersebut. Di kala permasalahan yang ia hadapi lebih sulit dari kapasitas yang ia telah miliki, maka ia akan menyerah lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki AQ tinggi walaupun IQ yang tidak terlalu tinggi.

Seorang anak yang memiliki AQ tinggi, ia tidak akan mudah berpikir negatif terhadap apapun yang ada di hadapannya. Jika itu masalah, maka ia akan jadikan itu sebuah tantangan yang harus ia lalui. Pikiran negatif itu menghambat kemajuan karir. Hal itu pula yang sering diajarkan oleh para pengusaha-pengusaha sukses. Memang jika ingin sukses, maka singkirkan pikiran negatif yang selama ini menghinggapi, dan hadapi permasalahan selangkah demi selangkah seperti layaknya seorang climbers (pendaki).

Buku ini pun mengubah persepsi kita orang tua terhadap anak nakal. Mereka nakal, karena mereka memiliki kelebihan kreativitas. Memang anak didesain memiliki kreativitas yang tinggi, mereka sanggup merekam banyak hal dan menyimpannya dalam waktu yang sangat lama. Sungguh berbeda dengan kita orang tua, jangankan untuk menyimpan memori, untuk merekamnya saja pun sudah kerepotan. Pemikiran, ide, gagasan yang senantiasa baru dari anak, menghasilkan sosok anak yang seakan nakal. Padahal, bisa jadi mereka sedang mengekspresikan ide dan gagasan barunya, sedang bereksperimen dengan apapun yang ada disekeliling mereka. Namun disebabkan karena tidak adanya instrumen yang mampu memfasilitas ide dan kreativitasnya tersebut, akhirnya mereka gunakan berbagai instrumen yang ada disekeliling mereka yang seringkali hal itu tidak bisa diterima oleh kita para orang tua. Akhirnya mencap anak sebagai nakal. Padahal jika kita fasilitasi dengan baik, maka energi dan kreativitasnya itu akan tersalurkan dengan baik pula.

Banyak sekali hikmah yang dapat kita peroleh dari buku ini dan sangat direkomendasikan untuk dibaca demi menambah wawasan kita sebagai orang tua dalam hal mendidik amanah yang telah Allah SWT embankan secara optimal.

Wallahu'alam bishawab

No comments:

Post a Comment