Thursday, October 26, 2017

Menjadi Kaya Raya dengan Simpanan Bitcoin

Sumber gambar: https://www.google.com/
Bisa kita bayangkan, jika sewaktu tahun 2011 kita memiliki simpanan uang 100 ribu, dan kita belikan 1 bitcoin (1 BTC). Kemudian di tahun 2017 sekarang, nilai uang simpanan kita yang dulu seharga 100 ribu dalam bentuk 1 bitcoin tersebut, sekarang sudah jadi 78 juta rupiah!



Di era pasar bebas, muncul satu mata uang yang sangat fenomenal pergerakannya di dunia internasional, yaitu bitcoin. Apa itu bitcoin? Bagaimana bitcoin dapat melipatgandakan uang kita? Simak ya :)

Bitcoin merupakan sebuah mata uang virtual di dunia digital. Di Indonesia, mata uang ini mulai populer semenjak tahun 2013. Kelahirannya sendiri bermula semenjak tahun 2009 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Tidak ada negara yang mengatur peredarannya. Rusia malah menyatakan bitcoin ini sebagai ilegal, demikian pula Islandia. Namun berbagai negara lain di seluruh dunia tidak melarang transaksi menggunakan bitcoin. Bahkan Jerman yang memberikan status legal terhadap bitcoin. Jepang sendiri telah menyatakan bahwa bitcoin merupakan sebuah mata uang yang diakui di bawah Finance Service Agency (OJK nya Jepang). Namun Bank Indonesia tidak mengakui bitcoin sebagai sebuah mata uang, sehingga transaksi yang terjadi pun adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Oscar Darmawan, CEO bitcoin Indonesia, menjelaskan bahwa bitcoin memang bukan sebuah mata uang, namun sebuah komoditas, sehingga transaksi yang terjadi pun lebih bersifat barter. Namun barter yang tidak bertentangan dengan rupiah karena nilai barternya berdasarkan atas mata uang rupiah. Dengan kata lain, bitcoin bukanlah mata uang, melainkan sebatas alat pembayaran alternatif yang bernilai fluktuatif seperti halnya komoditas. Di Indonesia sendiri, mata uang virtual bitcoin sudah mulai di populerkan di Bali. Banyak merchant yang menerima pembayaran menggunakan bitcoin, mulai dari cafe pinggir jalan, hingga hotel berbintang lima sudah mulai. Bahkan di pulau Dewata ini memiliki mesin ATM sendiri untuk menukarkan rupiah menjadi bitcoin, namun tidak sebaliknya.

Oscar Darmawan, mengatakan bahwa bitcoin merupakan suatu bentuk protokol keuangan, sehingga satu pemilik bitcoin dengan pemilik bitcoin lainnya dapat saling terhubung tanpa harus ada server. Sehingga hal ini yang menjadikannya berbeda dari emoney atau ebanking. Protokol ini berdiri sendiri-sendiri di masing-masing pengguna tanpa ada yang mengatur yaitu dari pihak bank. Kelebihannya, bitcoin dapat dikirim kemana saja tanpa harus melalui lembaga bank. Hal ini membuat biaya transaksinya sangat murah mendekati 0 rupiah. Mata uang ini bisa digunakan di negara mana saja. Rekening pemilik tidak dapat dibekukan. Saat transaksi pun, bitcoin tidak memiliki syarat dan batasan transfer. Dan saat handphone kita hilang pun, bitcoin kita akan tetap aman tidak ikut hilang karena ada dalam dompet bitcoin. Selain itu, menurut Oscar Darmawan, bitcoin memiliki teknologi peer to peer untuk validasi transaksi sehingga sulit untuk diretas dan mudah dilacak untuk setiap transaksinya. Namun ternyata bitcoin memiliki beberapa kekurangan. Bitcoin melekat pada perangkat elektronik atau smartphone yang kita gunakan dan tidak menyimpan akun di server, artinya saat smartphone kita mati kita jadi mati kutu gak punya duit. Berbeda halnya dengan atm bank, kalau kartu ATM bank, kalau hilang, kita bisa laporan ke bank, bekukan beberapa hari, lalu bayar administrasi biaya kehilangan ATM. Namun kelemahan bitcoin tersebut bisa diantisipasi jika kita membawa powerbank, atau punya dua smartphone hehe...

Sekarang kenapa bitcoin bisa jadi mata uang virtual yang sangat populer, karena kurs atau nilai tukar bitcoin berfluktuasi setiap waktu, bahkan fluktuasi itu bisa sangat ekstrim.

Dalam liputan kompas TV dinyatakan tentang pergerakan bitcoin, pada tahun 21 Agustus 2011, harga 1 BTC = 95.200 rupiah.

Di awal Januari 2013, nilai 1 BTC = 13 USD, lalu di Desember 2013, nilainya meroket menjadi 1 BTC = 1.100 USD. Namun beberapa jam kemudian, di bulan yang sama di kisaran tanggal 1 Desember 2013, nilainya turun menjadi 500 USD akibat kasus pembatasan penggunaan bitcoin di China. Tapi 7 Desember 2013, nilainya kembali meroket 1 BTC = 1.000 USD, karena kasus Zynga menyatakan akan mereview sistem transaksi bitcoin.

Sumber lain mengatakan, pada tanggal 30 Agustus 2013, 1 BTC = 1.382.800 rupiah. Di bulan Februari 2014 (hampir setengah tahun kemudian), 1 BTC = 7.457.244 rupiah.

Dalam liputan Net TV di bulan Oktober 2015, terjadi kasus pemerasan yang unik, dimana pelakunya menginginkan 100 bitcoin dari korbannya. Saat itu, nilai 100 bitcoin ternyata setara dengan 500 juta rupiah! Artinya 1 BTC setara dengan 5 juta rupiah. Dalam liputan CNN Indonesia di bulan Mei 2016, saat itu nilai mata uang bitcoin sudah menginjak 6 juta rupiah untuk 1 bitcoinnya (1 BTC = 6 juta). 

Sekarang, di tanggal 20 September 2017, 1 BTC ternyata sudah menginjak nilai yang fantastis, yaitu 50.980.001 rupiah. Dan sebulan kemudian, tepatnya tanggal 20 oktober 2017, 1 BTC bernilai 78.490.600 rupiah. Artinya dalam sebulan kenaikan nilai 1 BTC itu mencapai sekitar 18 jutaan. Bisa kita bayangkan, jika sewaktu tahun 2011 kita memiliki simpanan uang 100 ribu, dan kita belikan 1 bitcoin (1 BTC). Kemudian di tahun 2017 sekarang, nilai uang simpanan kita yang dulu seharga 100 ribu dalam bentuk 1 bitcoin, sekarang sudah jadi 78 juta rupiah! Ini menjadi salah satu bentuk investasi yang luar biasa, sebab selain fluktuasinya yang selalu meningkat tajam, berinvestasi dalam bentuk bitcoin bisa kita mulai dari nominal uang berapa pun tidak harus jutaan.

Bitcoin merupakan mata uang virtual, oleh karena itu kita menyimpannya pun dalam dompet virtual yang bernama bitcoin wallet (dompet bitcoin). Bali menjadi pusat perkembangan bitcoin dengan website bitcoin.co.id. Dalam kurun waktu 2 tahun (hingga tahun 2015) member pemilik bitcoin Indonesia telah berkembang mencapai 50 ribu orang. Dan di tahun 2017 ini, pemilik bitcoin Indonesia telah mencapai 550 ribu an orang. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai bitcoin markeplace terbesar di Asia Tenggara dengan volume transaksi harian rata-rata mencapai 500 juta rupiah.

Ingin punya simpanan bitcoin, mulai daftar DISINI

Penulis: Aditya Rakhmawan
Dalam sebuah momen sakral mikiran sumber piduiteun
Serang, 27 Oktober 2017

No comments:

Post a Comment