Friday, March 22, 2019

Nafkah Lahir atau Uang Jajan untuk Istri, Memangnya Beda?

Tulisan berikut ini merupakan tulisan seputar fenomena rumah tangga kekinian perihal istilah uang yang diberikan suami kepada istrinya setiap bulan. Beberapa keluarga mengistilahkan pemberian suami setiap bulan sebagai "uang jajan buat istri", atau "uang jajan buat anak-anak" atau lainnya. Istilah “uang jajan” ini sebenarnya sedikit ambigu, bukankah istilah sebenarnya “nafkah”? Apakah sama antara “nafkah” dan “uang jajan”. Sebab istilah uang jajan ini, seakan uang yang diberikan bisa digunakan sesuka hati. Apa benar bagaimana pandangan islam tentang “nafkah” dan “uang jajan” ini? Nyok kita kaji pelan-pelan ... Saya berusaha se-objektif mungkin dalam mengkaji dan harap maklum saya juga amatir dalam hal ini haha... 

Kita perlu tahu, bahwa laki-laki dan perempuan setelah mereka berdua menikah, mereka akan terikat pada suatu aturan yang baru, yaitu aturan kehidupan berumah tangga tentunya. Dan itu gak sembarangan, kita yang sudah menyandang status baru, suami atau istri, mesti belajar lagi. Dan gak tanggung-tanggung, proses pembelajaran itu bisa berlangsung bertahun-tahun… Kalau gak sabar-sabar, bisa resign atau DO (drop out) tuh… Alias, you, me, end ... Weew... Karena itu, kita mulai pahami dari aturan-aturannya. 

Nyok, kita mulai dari dalil ini:


Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah (2):233)

Dari ayat itu, tugas Ibu adalah fokus menyusukan anaknya selama dua tahun, tugas ayah adalah menjamin makan mereka. Siapa itu “mereka”, yaitu ibu dan anaknya atuh. Anak siapa? Ya anak si Ayah juga lah, masa anak tetangga wkwkwk…

Dari ayat itu juga terlihat bahwa menyusui anak itu adalah pekerjaan yang berat. Di awali dengan pernyataan, “… Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. …” 
Lalu dilanjutkan, “… Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya…” 
Kewajiban Ibu memang menyusui anaknya selama dua tahun, namun saat Ibunya merasa tidak sanggup, maka Ibunya berhak untuk menyapih si anak walaupun belum sampai dua tahun.

Terus suami apa kerjaan?

Suami tugasnya ngasih makan istrinya. Ini dalil bagaimana suami memiliki kewajiban menafkahi istrinya:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa (4):34)

Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi kalian (para suami) memberikan rizqi (makanan) dan pakaian dengan ma’ruf kepada mereka (para istri).” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda: “Dan mereka (para istri) memiliki hak untuk diberi rizqi (makanan dan pakaian), yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).” (HR. Muslim)

Yaa Rasulullah, apa saja hak istri yang wajib kami tunaikan?” Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “engkau beri ia makan jika engkau makan, engkau beri ia pakaian jika engkau berpakaian, dan jangan engkau memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan memboikotnya kecuali di rumah‘” (HR. Abu Daud 2142 dihasankan Al Albani dalam Adabuz Zifaf, 208).

Dari dalil-dalil tersebut, inti dari pekerjaan suami adalah menafkahi istri dengan sebagian hartanya. 
Berupa apa nafkahnya? Menurut HR. Abu Daud, dengan makanan dan pakaian. Saat suami makan, istri pun harus makan seperti apa yang suami makan. Saat suami berpakaian, maka istri pun harus diberi pakaian, tapi gak pakai pakaian suami juga laaah… heu…

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq (65):7)

Yup, suami itu punya kewajiban memberi nafkah kepada istri itu sesuai kemampuan. Jadi saat suami sedang memiliki harta sempit, maka beri nafkah istri itu semampunya. Tapi saat suami sedang mendapatkan kelimpahan harta, maka beri nafkah istri harus dilebihkan sesuai dengan kelebihan rizkinya. Artinya hal ini, jika disambungkan dengan HR. Abu Daud sebelumnya, saat suami berpakaian, istri pun berikan pakaian. Saat suami punya dua pakaian, maka berikan istri juga dua pakaian. Saat suami punya gaji sejuta, maka berikan istri juga setengahnya. Saat penghasilan suami naik jadi 5 juta, maka berikan istri juga setengahnya, 2,5 juta. Wallahu’alam. 


Itu hanya penafsiran saya saja sebagai pengkaji ilmu, harus ditanyakan lebih lanjut pada ulama yang lebih paham. Hadits ini mengakibatkan istri dituntut untuk bisa mengelola keuangan yang telah diberikan oleh suami. Dan tidak menuntut nafkah yang diluar kesanggupan suaminya, apalagi suaminya sedang mengalami kesempitan rizqi. Suami pun dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mampu memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Setelah berusaha dengan maksimal, tapi hasilnya masih kurang, maka barulah dengan ikhlas (yang dipaksakan) istri harus bisa menerima nafkah suami berapa pun itu :D

Dari QS. 2:334, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri. Dengan kata lain, istri itu adalah tanggungan suami. Sehingga, jika hal itu ditinggalkan, maka hukumnya adalah berdosa. Dalilnya?

cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud 1692, Ibnu Hibban 4240, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Kalau suami tidak menafkahi istri, ya dosa, lalu seberapa banyak nafkahnya? QS. 4:34, yang menyatakan bahwa suami lah menafkahkan sebagian dari harta suami kepada istri. Jumlahnya adalah sebagian dari harta suami. Seberapa banyak sebagian itu? Berdasarkan QS. 65:7, kalau suaminya kaya, penghasilannya lagi besar, maka sebagian itu ya artinya banyak, tapi kalau suami penghasilannya lagi sempit, atau miskin, maka sebagian itu adalah semampunya suami.

Hei ini belum membahasa masalah nafkah dan uang jajan??



Oke, menurut Wiktionary.org, uang jajan adalah uang yang diberikan untuk bisa dibelanjakan sewaktu-waktu. Biasanya uang jajan diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Si anak bisa pakai untuk dibelikan sesuatu, bisa juga untuk ditabung. Tergantung kebutuhan dan keinginan si anak. Lalu kalau uang jajan untuk istri? Artinya uang yang diberikan kepada istri untuk dibelanjakan sewaktu-waktu. Uang itu bisa digunakan istri, atau bisa juga ditabung. Intinya, uang jajan yang diberikan suami kepada istrinya adalah sepenuhnya milik istri.

Lalu apakah sama dengan nafkah yang diberikan suami kepada istri? Yang wajib yang mana?
Bicara nafkah, apa sebenarnya nafkah? Nafkah itu asal katanya dari An-Nafaqah, yang secara bahasa artinya pengeluaran. Menurut berbagai sumber, kata An-Nafaqah itu asal katanya dari infaq. Jadi apa yang kita terima, atau setiap manusia terima, itu sebagiannya wajib dikeluarkan, itu namanya infaq. Kalau yang tidak wajib, itu namanya sedekah. Nah infaq ini juga berlaku untuk pengeluaran suami kepada istrinya.

Apa saja nafkah suami kepada istrinya? Menurut Kitab Hanafi, nafkah suami kepada istri itu berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Makanan dan pakaian ini juga kan disebutkan dalam HR. Abu Daud dan HR. Muslim sebelumnya. Tapi gimana cerita hanya makan dan berpakaian, tapi tinggal di rumah kardus. Maka dari itu, tempat tinggal itu jadi otomatis termasuk diantara makanan dan pakaian. Menurut para ulama, nafkah itu adalah sesuatu yang bisa membuat pihak yang diberi nafkah bisa tetap hidup, sehat, dan terjaga kesehatannya. Oleh karena itu, nafkah bisa dikatakan sebagai kebutuhan primer manusia. Bahasa Indonesianya, sandang, pangan, dan papan.
Sebagaimana hadits berikut:

wajib bagi kalian (para suami) memberikan rizki (makanan) dan pakaian dengan ma’ruf kepada mereka (para istri)” (HR. Muslim: 1218)

Ulama lain berpendapat, nafkah selain sandang, pangan, dan papan, bisa seperti berikut:
  • Ath Tha’am (makanan pokok)
  • Al ‘Udm dan sejenisnya (makanan yang menemani makanan pokok; lauk-pauk)
  • Al Khadim (pembantu)
  • Al Kiswah (pakaian)
  • Alaatut tanazhuf (alat-alat kebersihan)
  • Al Iskan (tempat tinggal)


Sumber: https://muslimah.or.id/7240-benarkah-nafkah-adalah-uang-jajan-bagi-istri.html

Jadi memang istilah nafkah itu bukanlah “uang jajan”. Nafkah itu wajib dibelanjakan, karena itu adalah kebutuhan primer istri. Istri butuh makan, istri butuh pakaian, istri butuh tempat tinggal. Kalau jajan, itu bergantung pada hawa nafsu. Kalau bisa mengendalikan hawa nafsu, maka uang jajan pun bisa ditabung. Tapi kalau tidak bisa menahan keinginan, maka uang jajan itu pun bisa dibelanjakan. Walaupun tidak semua uang jajan itu berkaitan dengan hawa nafsu. Di saat darurat, anak mau naik angkot pulang sekolah, tapi gak ada angkot sampai sore, maka uang jajan pun pasti dibelanjakan untuk menahan laparnya.

Walaupun demikian, setelah sandang, pangan, dan papan terpenuhi, tidak ada salahnya memberikan sesuatu yang lebih kepada keluarga. Karena justru memberikan sesuatu kepada keluarga itu lebih afdhol bahkan ketimbang infaq di jalan Allah. Tengok hadits berikut:

empat jenis dinar: dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, dinas yang engkau berikan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, yang paling afdhal adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 578, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

Tapi tengok, kata yang digunakan adalah infaq, sedangkan infaq adalah pengeluaran wajib. Pengeluaran wajib kepada keluarga itu, ya nafkah, saudaranya infaq. Hadeuh… Yang memang berarti pengeluaran wajib suami berupa pangan, sandang, dan papan itu lebih afdhol ketimbang infaq di jalan Allah, infaq kepada orang miskin, dan infaq untuk membebaskan budak. Namun, ini perlu pengkajian lebih jauh nih… kenapa infaq di jalan Allah tidak lebih penting ketimbang infaq kepada keluarga. Bukankah seorang hamba itu harus mendahulukan Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, ketimbang keluarga? Seperti ayat ini nih:

Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS: At-Taubah (9):24)

Mungkin dengan catatan, infaq kepada keluarga berupa infaq yang dapat meningkatkan keshalihan dari anggota keluarga. Seperti misalnya, infaq peralatan shalat, Al-Qur’an, sarana belajar seperti buku, atau media lainnya, biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan lain-lain. Selain itu, mungkin infaq kepada keluarga itu menjadi penting disaat ada kaitannya dengan keluarga sebagai pondasi kehidupan. Keluarga sebagai sistem terkecil dalam kehidupan. Saat kondisi keluarga kokoh, maka kedudukan suami dalam masyarakat pun kokoh. Saat suami bisa merubah kondisi keluarga, maka merubah kondisi masyarakat bahkan dunia pun tidak akan mengalami kesulitan.

Wallahu’alam Bish shawaab

Pengkajian ini masih belum selesai, baru sebagian, dan masih membutuhkan pendapat para ulama yang lebih paham.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Written by: Aditya Rakhmawan
Antapani, Bandung

Sumber:

No comments:

Post a Comment