Sunday, May 31, 2020

Variabel bebas dan variabel terikat ... Apa hubungannya dengan perbaikan diri?

Bismillah

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Key melanjutkan pembahasan kemarin, antara target dan evaluasi akan diperkenalkan dengan variabel bebas dan variabel terikat. Dua istilah ini biasa didengar di dunia penelitian. Variabel bebas disebut bebas karena memang bebas memanipulasinya atau ngotak-ngatik nya. Tujuannya untuk apa, dapat informasi tentang variabel terikat. Variabel ini tergantung pada variabel bebasnya, karena itu disebut terikat, karena terikat dengan variabel bebas. 

Contoh penggunaan variabel bebas dan terikat, misalnya saat orang bilang merokok mengakibatkan kanker paru-paru. Maka variabel bebasnya adalah merokok, sedangkan kanker paru-paru adalah variabel terikatnya. Kenapa gitu? Ya karena merokok bisa kita bebas kendalikan, kita bisa merokok atau juga tidak. Sedangkan kanker paru-paru tidak bisa kita kendalikan, kanker ini bergantung (terikat) pada kebiasaan merokok seseorang. Kanker paru-paru gak bisa kita kendalikan atau manipulasi sesuai keinginan kita. 

Eit, gak sampai disitu, ternyata ada beberapa orang korban kanker paru-paru, dia tidak merokok, tapi bisa kena kanker paru-paru. What ..!! Apa yang terjadi??

Nah, ternyata selain faktor rokok, kanker paru-paru juga bisa muncul karena faktor lainnya juga. Misalnya intensitas korban terkena paparan asap kendaraan bermotor.

Waduh, jadi gimana donk? 

Nah, untuk bisa mengetahui apa sih faktor utama penyebab kanker paru-paru, maka kita harus meneliti nya dari variabel bebasnya, yaitu intensitas merokok dan intensitas paparan polusi udara. 

Caranya?

Kalau kita ingin tahu seberapa parah dampak dari merokok terhadap kanker paru-paru, maka kita harus buat orang yang kita teliti hubungan antara merokok dengan kanker paru-paru itu jangan keluar rumah (stay at home), agar tidak ada pengaruh dari polusi udara, tapi disuruh sering merokok (Naudzubillah - cuma contoh yaaa ... Don't try this at home). Lalu dilihat, setelah beberapa lama, ini orang kena kanker paru-paru atau ngga (Busyet deh, ini keterlaluan banget).

Sebaliknya, sampel orang lain, suruh sering keluar, tapi jangan merokok. Bagaimana kecenderungan kanker nya. 

Wai wai wai ... Ini percobaan Frankenstein nih ... >_<

Lain kali ngasih contoh jangan pakai orang ya, tapi pakai mencit (tikus percobaan)

Nah, intinya apa nih? Intinya, kalau kita ingin tau alasan target tercapai atau tidak, kalau kemungkinan penyebabnya ada banyak, misalnya ada lima faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan yang mungkin, maka kita harus coba mengubah-ubah satu faktor, tapi empat faktor lain dibuat tetap dari hari ke hari. 

Dengan cara ini, maka evaluasi agenda target pun akan berjalan dengan baik dengan hasil evaluasi yang lebih akurat. Bukan hanya melibatkan emosi dan hawa nafsu belaka saat sedang mengevaluasi diri. 

Selain itu, list aktivitas yang dilakukan setiap hari secara terjadwal akan memperlihatkan seberapa efektif kita dalam mencapai target. Hasil evaluasi dari hari ke hari dari list aktivitas terjadwal itu seharusnya kita bisa tau, hari ini apakah lebih baik dari hari kemarin atau tidak. Tapi jika hari ini kita melakukan list aktivitas yang berbeda dengan hari kemarin, maka evaluasi kurang dapat berjalan dengan baik. Kenapa? Karena evaluasi itu bukan hanya membandingkan antara target dan hasil, tapi juga membandingkan antara hari ini dan hari kemarin, pekan ini dan pekan kemarin, bulan ini dan bulan kemarin, bahkan tahun ini dan tahun kemarin.

Semoga menginspirasi.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Written by: Aditya Rakhmawan

Saturday, May 30, 2020

Antara Target dan Evaluasi, Apakah Mungkin Evaluasi tanpa Target?

Bismillah

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Mungkin pernah dengar istilah target dan evaluasi. Keduanya sebenarnya saya pikir adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan. Kenapa? Jika tidak ada target, maka apa yang perlu di evaluasi.

Target biasanya kita lakukan sebelum memulai aktivitas. Sedangkan evaluasi kita lakukan setelah selesai beraktivitas. 

Apakah mungkin evaluasi bisa dilakukan tanpa target?


Ibarat panahan, target adalah delapan lingkaran yang ada pada target panahan, ada warna putih, biru tua, biru, merah, dan kuning. Sebelum mulai memanah, si pemanah akan mengawalinya dengan fokus terhadap target panahan. Dalam pikiran si pemanah, "Anak panah saya harus bisa mengenai lingkaran kuning nih bro!" Atau mungkin gini, "Anak panah saya harus ngenain lingkaran putih nih brur!"


Apapun itu pikirannya, itu adalah target yang diharapkan sebelum anak panah dilepaskan dari busurnya. Mau itu ngenain yang kuning atau yang putih. Terserah. 

Kalau awalnya menargetkan yang lingkaran putih, tapi setelah anak panah dilepaskan malah kena lingkaran kuning (Wadaw ... kegagalan yang mujur), nah barulah dilakukan evaluasi. Kenapa bisa, padahal awalnya pengen ngenain lingkaran putih, kok bisa malah kena yang kuning sih. 

Apa yang salah?

Dari tahap ini mulai di evaluasi beberapa kemungkinan penyebab:
1. Anak panah bengkok kayanya nih, atau
2. Busurnya terlalu panjang, atau
3. Mata rada bintitan memang, efek semalam dipipisin kecoa, atau
4. Baju terlalu ngetat, jadi gak bebas ngeker, atau
5. Bau ketiak terlalu pekat, jadi gak bisa konsentrasi, atau
6. Mikirin pesenan emak yang lupa belum dikerjain karena disuruh beliin paket sayur asem di warung tapi uangnya lupa nyimpen dimana, padahal udah dikasih, atau
7. Dan lain-lain

Setelah beberapa kemungkinan penyebab ini di list, lalu diambil yang paling mungkin jadi penyebabnya, lalu dibuatlah target berikutnya agar poin yang menjadi penyebab kegagalan dalam memanah yang sebelumnya itu bisa fokus untuk diatasi. 

Misalnya, sepertinya saya gagal mengenai lingkaran putih itu karena ketek saya terlalu bau, lupa belum pakai rexona sebelumnya. Setelah menyadari hal sumber masalahnya, maka sebelum memanah berikutnya, diambillah keputusan bahwa saya harus pakai rexona dulu sebelum mulai memanah.

Inilah yang dimaksud dengan proses evaluasi. Yaitu mencari kekurangan atau masalah yang menjadi penyebab target tidak tercapai. 

Setelah itu, aktivitas yang sama berikutnya akan dilakukan suatu upaya lebih agar kendala yang dialami sebelumnya tidak terjadi, apa upayanya? Yaitu pakai rexona (Penting banget beud!)

Trial kedua, setelah menggunakan rexona, ternyata tidak tercapai juga target lingkaran putih, maka di evaluasi kembali penyebab lainnya selain rexona. 

Artinya apa? Dalam proses evaluasi mencapai target, kita harus betul-betul memahami mana variabel terikat dan variabel bebas. Wew ... What is this beud?

Yup ... next time ... Semoga bermanfaat :)


Written by: Aditya Rakhmawan

Friday, May 29, 2020

Kesempurnaan yang Membuat Kita Semakin Tidak Sempurna

Bismillah.

Assalamu'alaikum. 

Mungkin seringkali kita mendengar peribahasa "Nothing is perfect"

Bener banget, tidak ada yang sempurna didunia ini selama kita bergelar manusia. Bahkan Rasulullah, manusia teladan umat manusia di dunia dan sepanjang zaman pun tidak sempurna. Pernah sekali Rasulullah ditegur Allah SWT karena "nyuekin" sahabatnya yang buta Ibnu Ummi Maktum. Keliru mengambil keputusan terkait tawanan perang Badr pun pernah Rasulullah yang mulia alami. Sampai pada akhirnya, tawanan perang Badr yang Rasulullah bebaskan ternyata malah kembali menyerang di perang Uhud. Nothing is perfect.

Hei, kita manusia biasa yang jauh sekali dari Rasulullah atau pun para Sahabat Rasulullah. Jauh sekali. Tapi kita inginkan mencapai kesempurnaan? Hmmm ... rasanya kurang tepat. 

Memang kita mencapai kesempurnaan itu dapat menjadi cita-cita. Tapi jangan dijadikan target awal. Harapan adalah harapan, tapi jangan dijadikan target mutlak, sehingga saat tidak tercapai kita akan mengalami depresi atau tertekan. No!

Atau bahkan pada umumnya orang, belum mencapai hasil yang diharapkan udah tertekan duluan. Yess... itu yang paling umum dialami kebanyakan orang.

Believe it or not, perfection itu menghambat kita dalam berkarya. Sebaiknya biarkan kesalahan demi kesalahan kita alami waktu demi waktu. Dengan catatan, kita mesti belajar dari kesalahan tersebut. 

Persiapkan mental kita bahwa memang karya kita ini jauh dari kesempurnaan. Persiapkan mental kita juga bahwa kita mesti siap untuk mendapatkan komentar dan masukan dari orang-orang yang care di sekitar kita. Peduli pada kita agar kita bisa memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan sehingga kita dapat menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. 

Hei, Allah itu menilai proses dan perjuangan. InsyaaAllah ... Walaupun ada istilah Husnul hotimah dan Su'ul hotimah, tapi saya percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya yang tulus ingin lebih baik lagi dari waktu ke waktu untuk mempersiapkan diri dihadapan Tuhannya saat waktunya tiba nanti. 

Kesempurnaan menghambat kita dalam berkarya. Keinginan mencapai kesempurnaan akan membuat kita stress sebelum karya kita rampung. Kenapa? Karena kita manusia yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hari ini perbaikan selesai, besok pasti adalagi hal yang harus diperbaiki dan terus saja seperti itu.

Ditambah lagi ketakutan kita akan mendapatkan celaan dan komentar dari apa yang kita lakukan. Itu semakin membuat kita enggan dalam berkarya. Jangan melihat Einstein yang telah menemukan persamaan E = mc^2 dan teori relativitas, tapi lihat Einstein yang sekolahnya "belang-betong", SMP dan SMA aja gak lulus. Tapi ia gigih dan tidak menyerah untuk terus belajar dan belajar. 

Jangan melihat Thomas Alva Edison yang sangat terkenal karena penemuannya yang mampu menerangi dunia. Tapi lihat berbagai kegagalan yang ia lalui semasa kecilnya, serta ribuan kali gagal dalam percobaan menemukan bola lampu. Namun ia punya yang namanya kuat mental. Siap disebut gagal, tapi siap belajar dengan kegagalan. Gagal adalah hal yang seharusnya kita siap alami. Karena tanpa gagal, atau komentar nyelekit, kita gak akan pernah belajar. Why? Karena kita tidak pernah mencapai apapun untuk dikomentarin.

So, jauhkan keinginan untuk perfect, dan teruslah berkarya dan gagal. Karena kegagalan demi kegagalan akan mendekatkan diri kita pada kesempurnaan. InsyaaAllah. 

Kalau iklan bilang, "berani kotor itu baik"

Kalau kali ini dapat dibilang, "berani gagal itu baik"

Semoga bermanfaat.

Assalamu'alaiakum Warrahmatullahi wabarakatuh.



Written by: Aditya Rakhmawan

Bahan bacaan tambahan:

Monday, May 25, 2020

Bagaimana Islam Mengajarkan Membangun Habit

Bismillah.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana suatu habit bisa merubah manusia.

Habit itu adalah bahasa Inggris dari kebiasaan, atau rutinitas. Islam sebenarnya telah mengajarkan kita bagaimana pentingnya suatu habit untuk dikembangkan. Contoh konkret mungkin yang seringkali kita lakukan, tapi jarang sekali kita sadari, yaitu shalat lima waktu.

Allah menyuruh kita untuk shalat lima waktu secara disiplin. Kapan jadwal adzan, dan berbagai aktivitas yang mengiringi saat adzan. 

Selain itu, shaum Ramadhan. 

Para motivator selalu menganjurkan untuk melakukan suatu aktivitas setiap hari agar suatu habit dapat tercipta. Mulai dari tiga hari berturut-turut, tujuh hari berturut-turut, sebulan, 40 hari, dan sampai 66 hari. Segala upaya itu saking pentingnya, terus dikembangkan menjadi informasi yang perlu disampaikan ke masyarakat.

Jika kita mampu menjalankan suatu aktivitas dalam rentang wkatu yang berturut-turut seperti diatas, tanpa putus, maka kita akan melakukan sesuatu tersebut secara otomatis tanpa harus berpikir terlebih dahulu. 

Shaum Ramadhan, mengajarkan kita untuk berpuasa tidak makan dan imnum selama 30 hari. Sehingga seharusnya setelah 30 hari berlalu, jika kita bersungguh-sungguh menjalankan ibadah tersebut, maka kita akan merasakan kerinduan yang sangat setelah bulan Ramadhan berakhir. Namun, jika tidak ada dorongan internal dan eksternal, maka kerindungan itupun hanya sekedar kerinduan tanpa ada action. Percuma.

Hei, semua aturan, informasi dan petunjuk kehidupan itu ada di dalam islam. Namun jika umatnya tidak menjalankannya, atau tidak bersungguh-sungguh menjalankannya, maka pedang setajam apapun beresiko dapat membunuh diri sendiri jika ia tidak sungguh-sungguh menggunakannya dan menjiwainya sehingga pedang itu dapat menjadi miliknya.

Wallahu'alam.

Written by: Adityarakhmawan

Saturday, May 23, 2020

Ramadhan dan Idul Fitri bersama dengan Covid-19

Bismillah

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Gak terasa, besok udah 1 syawal 1441 H. Sebulan penuh kita menjalani ibadah Shaum Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Tahun ini benar-benar sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Kita yang biasa shalat di masjid untuk taraweh, atau berburu shalat berjamaah di masjid lima waktu setiap hari nya. Tapi untuk tahun ini tidak demikian adanya. Shalat di rumah berjamaah dengan istri, itu pun kalau istri tidak halangan. Kalau istri ada halangan, maka shalat berjamaah hanya dengan anak pertama, Kemi. Rasanya rindu lama tidak shalat berjamaah di masjid bersama dengan jamaah lain. Bahkan shalat jum'at pun saya lewatkan shalat bersama keluarga di rumah, bukan di masjid. Ketenangan hati yang biasa diperoleh usai shalat berjamaah di masjid, cukup lama tidak dirasakan kembali. 

Namun dibalik kerinduan ini, ternyata tersimpan satu hikmah besar yang tidak bisa terjadi jika tidak muncul panemi ini. Kebersamaan dengan keluarga. Kesempatan untuk memahami seluk-beluk pasangan dan juga memahami tumbuh kembang anak-anak. Hal itu jelas tidak akan bisa dirasakan jika Covid-19 ini tidak muncul. 

Jadi memang benar Allah yang telah berfirman, bahwa sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan, BERSAMA kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah, . Dan memang benar, kita jadi lebih mudah untuk membersamai anak-anak. Saya sebagai kepala rumah tangga memang sudah seharusnya mengenal tumbuh kenal anak, turun langsung ke lapangan (punya istri) untuk bisa belusukan mengenal warganya. Sehingga keputusan dan tindakan yang dibuat terkait keluarga ini bisa lebih tepat diambil.

Kemudahan-kemudahan ini dapat terjadi karena kita yakin akan janji Allah dalam Qur'annya. Apakah setiap orang menerima kemudahan-kemudahan itu? Ya, hanya saja ada orang yang sadar, ada juga yang tidak sadar. Ada orang yang Allah bukakan pintu hidayah-Nya, ada juga yang Allah tutup. Saya pikir yang perlu kita lakukan untuk bisa melihat kemudahan itu adalah menghilangkan sifat sombong dalam diri, merasa diri serba tahu, tidak menerima perubahan, dan merasa nyaman di zona nyaman. Kita harus mengembangkan kesadaran, bahwa di atas langit masih ada langit. Masih banyak kekurangan dalam diri untuk diperbaiki. Dan kita pun harus yakin, bahwa tidak skenario yang Allah perjalankan melainkan skenario kehidupan itu memang spesial untuk kita. 

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang merasakan kemudahan itu. Aamiin ... aamiin ya Rabbal'alamiin.

Written by: Aditya Rakhmawan

Saturday, May 9, 2020

Antara pendekatan, desain, dan metode penelitian

Bismillahirrahmanirrahim. 

Tulisan berikut ini merupakan hasil pengkajian buku Creswell (2014). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Creswell (2014:3), pendekatan penelitian itu ada tiga macam:
  • Kuantitatif
  • Kualitatif
  • Mixed methods
Masing-masing pendekatan penelitian ini ada desain penelitiannya tersendiri, yaitu 
  • Pendekatan kuantitatif, desain penelitian yang bisa digunakan yaitu desain penelitian:
    • eksperimen, dan 
    • non-eksperimen
  • Pendekatan kualitatif, desain penelitian yang bisa digunakan yaitu desain penelitian:
    • naratif
    • fenomenologi
    • etnografi
    • grounded theory, dan
    • studi kasus (case study)
  • Mixed methods, desain penelitian yang bisa digunakan yaitu desain penelitian:
    • convergen
    • explanatory sequential
    • exploratory sequential
    • serta transformative, embedded, atau multiphase
Desain sudah ditentukan, berikutnya adalah menentukan metode penelitian dari masing-masing pendekatan penelitian:
  •  Kuantitatif, metode penelitian yang bisa digunakan:
    • pre-determined
    • instrument based questions
    • performance data
    • attitude data
    • observational data
    • data sensus
    • analisis statistik 
    • statistical interpretation
  • Kualitatif, metode penelitian yang bisa digunakan:
    • Emerging methods, 
    • open-ended questions, 
    • interview, 
    • observation, 
    • pengumpulan dokumen, 
    • penggunaan audio-visual, 
    • analisis teks dan gambar, 
    • analisis tema, pola, dll


Written by: Aditya Rakhmawan

Pustaka: 
  • Creswell, John W. (2014). Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed 4th edition. SAGE Publication

Saturday, May 2, 2020

Wabah Thaun dan Pandemi Covid-19

Zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pernah ada suatu wabah yang melanda negeri Syam, namanya Thaun. Orang yang terkena Thaun, bagian-bagian lunak dari dirinya akan mengalami pembengkakan yang sangat parah dan mematikan, seperti bagian belakang telinga, ketiak, dan ujung hidung. Selain itu pembengkakan ini juga menimbulkan rasa haus yang teramat sangat dan sakit yang luar biasa. Pembengkakan ini pun lama-kelamaan akan menimbulkan nanah. Selain itu diceritakan juga Thaun juga mengakibatkan tubuh menjadi hitam, hijau, atau abu-abu.

Rasulullah sendiri pernah menjelaskan terkait apa itu Thaun setelah Aisyah bertanya, yaitu
"Benjolan yang muncul seperti yang dialami oleh unta, tumbuh di bagian belakang ketiak dan sejenisnya" (HR Ahmad).

Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah mengunjungi negeri Syam. Saat itu negeri Syam sedang dilanda wabah Thaun. Sebelum memasuki negeri itu, Khalifah Umar bertindak bijak dengan melakukan diskusi dengan para sahabatnya. Hadir disitu sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar. Ternyata baik muhajirin maupun anshar banyak terdapat perbedaan pendapat terkait apakah perlu masuk ke negeri itu atau tidak.

Secercah jawaban akhirnya didapatkan dari kalangan pembesar Quraisy yang ikut berhijrah, hanya sedikit saja yang berbeda pendapat dari kalangan ini.

Saat itu keputusan cenderung untuk tidak mendatangi negeri Syam yang saat itu sedang ada wabah Thaun.

Hal cukup penting disini adalah pertanyaan Abu Ubaidah yaitu, "Wahai Amirul Mukminin, apakah ini berarti lari dari takdir Allah?"

Umar menjawab, "Mestinya orang selain engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah. Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan ada dua tempat disitu, yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat gersang, itu pun juga takdir Allah?"

Khalifah Umar dalam hal ini mengambil pilihan untuk menghindar dari Thaun karena melihat dari sisi mana kemaslahatan bisa diperoleh lebih banyak. Tempat gersang merupakan analogi dari negeri Syam yang terkena wabah Thaun. Sedangkan tempat subur merupakan analogi tempat di luar negeri Syam. Memang keduanya bisa saja didatangi, tapi ternyata dampak kebaikan dari mengunjungi kedua tempat itu berbeda jauh.

Ternyata hal ini diperkuat oleh pendapat dari Sahabat Abdurrahman bin Auf yang mengingatkan tentang perkataan Rasulullah, "saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkait Corona Virus Disease (Covid)-19 yang melanda Indonesia sekarang, jika kita memetik pelajaran dari sejarah yang telah dilalui para sahabat dahulu. Saat ada wabah melanda suatu negeri atau suatu wilayah. Maka solusinya adalah jangan mendatanginya, dan orang yang sudah berada di wilayah yang terkena wabah jangan sampai keluar dari wilayah wabah itu. Tapi lakukan upaya mengisolasi diri dari lingkungan sekitar, atau #dirumahaja.



048.023 سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا
Al-Qur'an, 048.023 (Al-Fath [Victory, Conquest])
Text Copied from
DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.9

"Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejah dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (QS. 48:23)

Berdasarkan ayat tersebut, menyatakan bahwa sunnatullah itu tidak akan pernah berubah bahkan sampai kiamat sekalipun. Sunnatullah itu adalah suatu ketetapan Allah yang diperjalankan untuk manusia di muka bumi, dan ketetapan itu masuk akal dan wajar menurut manusia. Oleh karena manusia semenjak zaman nabi Adam sampai sekarang diciptakan dengan modal yang sama, tanah, maka sunnatullah disini termasuk perjalanan sejarah manusia. Sebab perjalanan sejarah manusia dipenuhi dengan karakter-karakter manusiawi yang memiliki hubungan jika maka, atau sebab akibat. 

Wabah yang Allah berikan ini pun merupakan media memperjalankan sunnatullah yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Manusia harus menghadapi dengan cara belajar dari sejarah islam yang dahulu islam di masa ideal-idealnya. Dan menghadapi covid-19 sekarang tidak bisa menggunakan cara umat islam sekarang yang jauh dari ideal. Tapi kita harus menghadapi covid-19 sekarang ini dengan cara umat islam yang ideal, yaitu cara Umar bin Khattab dulu menghadapi wabah Thaun. Jika semua memahami dan mengimplementasikan cara ini dengan kompak, maka wabah covid-19 ini insyaaAllah bisa kita lalui dengan cepat. 

FYI, update virus corona di Indonesia saat ini tertanggal 2 Mei 2020 adalah 10551 orang terkonfirmasi. 8160 orang dalam perawatan.

Informasi ini saya dapatkan dari berbagai sumber.

Semoga bermanfaat.

Written by: Aditya Rakhmawan

Sumber rujukan
  • https://www.harianaceh.co.id/2020/03/18/ini-ciri-ciri-fisik-wabah-penyakit-di-era-umar-bin-khattab/
  • https://islam.nu.or.id/post/read/118797/wabah-thaun-mematikan-itu-mengganas-sepulang-mereka-berkumpul
  • https://sukabumiupdate.com/detail/ragam-berita/internasional/66385-Nabi-Muhammad-Pernah-Bicara-soal-Lockdown-Kala-Wabah-Landa-Madinah
  • https://adjhis.wordpress.com/2012/01/23/apa-yang-dimaksud-dengan-sunnatullah/
  • https://assajidin.com/2018/02/06/apa-yang-dimaksud-sunnatullah-begini-penjelasannya/
  • https://kawalcovid19.id/