Saturday, May 30, 2020

Antara Target dan Evaluasi, Apakah Mungkin Evaluasi tanpa Target?

Bismillah

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Mungkin pernah dengar istilah target dan evaluasi. Keduanya sebenarnya saya pikir adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan. Kenapa? Jika tidak ada target, maka apa yang perlu di evaluasi.

Target biasanya kita lakukan sebelum memulai aktivitas. Sedangkan evaluasi kita lakukan setelah selesai beraktivitas. 

Apakah mungkin evaluasi bisa dilakukan tanpa target?


Ibarat panahan, target adalah delapan lingkaran yang ada pada target panahan, ada warna putih, biru tua, biru, merah, dan kuning. Sebelum mulai memanah, si pemanah akan mengawalinya dengan fokus terhadap target panahan. Dalam pikiran si pemanah, "Anak panah saya harus bisa mengenai lingkaran kuning nih bro!" Atau mungkin gini, "Anak panah saya harus ngenain lingkaran putih nih brur!"


Apapun itu pikirannya, itu adalah target yang diharapkan sebelum anak panah dilepaskan dari busurnya. Mau itu ngenain yang kuning atau yang putih. Terserah. 

Kalau awalnya menargetkan yang lingkaran putih, tapi setelah anak panah dilepaskan malah kena lingkaran kuning (Wadaw ... kegagalan yang mujur), nah barulah dilakukan evaluasi. Kenapa bisa, padahal awalnya pengen ngenain lingkaran putih, kok bisa malah kena yang kuning sih. 

Apa yang salah?

Dari tahap ini mulai di evaluasi beberapa kemungkinan penyebab:
1. Anak panah bengkok kayanya nih, atau
2. Busurnya terlalu panjang, atau
3. Mata rada bintitan memang, efek semalam dipipisin kecoa, atau
4. Baju terlalu ngetat, jadi gak bebas ngeker, atau
5. Bau ketiak terlalu pekat, jadi gak bisa konsentrasi, atau
6. Mikirin pesenan emak yang lupa belum dikerjain karena disuruh beliin paket sayur asem di warung tapi uangnya lupa nyimpen dimana, padahal udah dikasih, atau
7. Dan lain-lain

Setelah beberapa kemungkinan penyebab ini di list, lalu diambil yang paling mungkin jadi penyebabnya, lalu dibuatlah target berikutnya agar poin yang menjadi penyebab kegagalan dalam memanah yang sebelumnya itu bisa fokus untuk diatasi. 

Misalnya, sepertinya saya gagal mengenai lingkaran putih itu karena ketek saya terlalu bau, lupa belum pakai rexona sebelumnya. Setelah menyadari hal sumber masalahnya, maka sebelum memanah berikutnya, diambillah keputusan bahwa saya harus pakai rexona dulu sebelum mulai memanah.

Inilah yang dimaksud dengan proses evaluasi. Yaitu mencari kekurangan atau masalah yang menjadi penyebab target tidak tercapai. 

Setelah itu, aktivitas yang sama berikutnya akan dilakukan suatu upaya lebih agar kendala yang dialami sebelumnya tidak terjadi, apa upayanya? Yaitu pakai rexona (Penting banget beud!)

Trial kedua, setelah menggunakan rexona, ternyata tidak tercapai juga target lingkaran putih, maka di evaluasi kembali penyebab lainnya selain rexona. 

Artinya apa? Dalam proses evaluasi mencapai target, kita harus betul-betul memahami mana variabel terikat dan variabel bebas. Wew ... What is this beud?

Yup ... next time ... Semoga bermanfaat :)


Written by: Aditya Rakhmawan

No comments:

Post a Comment