Friday, May 29, 2020

Kesempurnaan yang Membuat Kita Semakin Tidak Sempurna

Bismillah.

Assalamu'alaikum. 

Mungkin seringkali kita mendengar peribahasa "Nothing is perfect"

Bener banget, tidak ada yang sempurna didunia ini selama kita bergelar manusia. Bahkan Rasulullah, manusia teladan umat manusia di dunia dan sepanjang zaman pun tidak sempurna. Pernah sekali Rasulullah ditegur Allah SWT karena "nyuekin" sahabatnya yang buta Ibnu Ummi Maktum. Keliru mengambil keputusan terkait tawanan perang Badr pun pernah Rasulullah yang mulia alami. Sampai pada akhirnya, tawanan perang Badr yang Rasulullah bebaskan ternyata malah kembali menyerang di perang Uhud. Nothing is perfect.

Hei, kita manusia biasa yang jauh sekali dari Rasulullah atau pun para Sahabat Rasulullah. Jauh sekali. Tapi kita inginkan mencapai kesempurnaan? Hmmm ... rasanya kurang tepat. 

Memang kita mencapai kesempurnaan itu dapat menjadi cita-cita. Tapi jangan dijadikan target awal. Harapan adalah harapan, tapi jangan dijadikan target mutlak, sehingga saat tidak tercapai kita akan mengalami depresi atau tertekan. No!

Atau bahkan pada umumnya orang, belum mencapai hasil yang diharapkan udah tertekan duluan. Yess... itu yang paling umum dialami kebanyakan orang.

Believe it or not, perfection itu menghambat kita dalam berkarya. Sebaiknya biarkan kesalahan demi kesalahan kita alami waktu demi waktu. Dengan catatan, kita mesti belajar dari kesalahan tersebut. 

Persiapkan mental kita bahwa memang karya kita ini jauh dari kesempurnaan. Persiapkan mental kita juga bahwa kita mesti siap untuk mendapatkan komentar dan masukan dari orang-orang yang care di sekitar kita. Peduli pada kita agar kita bisa memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan sehingga kita dapat menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. 

Hei, Allah itu menilai proses dan perjuangan. InsyaaAllah ... Walaupun ada istilah Husnul hotimah dan Su'ul hotimah, tapi saya percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya yang tulus ingin lebih baik lagi dari waktu ke waktu untuk mempersiapkan diri dihadapan Tuhannya saat waktunya tiba nanti. 

Kesempurnaan menghambat kita dalam berkarya. Keinginan mencapai kesempurnaan akan membuat kita stress sebelum karya kita rampung. Kenapa? Karena kita manusia yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hari ini perbaikan selesai, besok pasti adalagi hal yang harus diperbaiki dan terus saja seperti itu.

Ditambah lagi ketakutan kita akan mendapatkan celaan dan komentar dari apa yang kita lakukan. Itu semakin membuat kita enggan dalam berkarya. Jangan melihat Einstein yang telah menemukan persamaan E = mc^2 dan teori relativitas, tapi lihat Einstein yang sekolahnya "belang-betong", SMP dan SMA aja gak lulus. Tapi ia gigih dan tidak menyerah untuk terus belajar dan belajar. 

Jangan melihat Thomas Alva Edison yang sangat terkenal karena penemuannya yang mampu menerangi dunia. Tapi lihat berbagai kegagalan yang ia lalui semasa kecilnya, serta ribuan kali gagal dalam percobaan menemukan bola lampu. Namun ia punya yang namanya kuat mental. Siap disebut gagal, tapi siap belajar dengan kegagalan. Gagal adalah hal yang seharusnya kita siap alami. Karena tanpa gagal, atau komentar nyelekit, kita gak akan pernah belajar. Why? Karena kita tidak pernah mencapai apapun untuk dikomentarin.

So, jauhkan keinginan untuk perfect, dan teruslah berkarya dan gagal. Karena kegagalan demi kegagalan akan mendekatkan diri kita pada kesempurnaan. InsyaaAllah. 

Kalau iklan bilang, "berani kotor itu baik"

Kalau kali ini dapat dibilang, "berani gagal itu baik"

Semoga bermanfaat.

Assalamu'alaiakum Warrahmatullahi wabarakatuh.



Written by: Aditya Rakhmawan

Bahan bacaan tambahan:

No comments:

Post a Comment