Saturday, May 23, 2020

Ramadhan dan Idul Fitri bersama dengan Covid-19

Bismillah

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Gak terasa, besok udah 1 syawal 1441 H. Sebulan penuh kita menjalani ibadah Shaum Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Tahun ini benar-benar sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Kita yang biasa shalat di masjid untuk taraweh, atau berburu shalat berjamaah di masjid lima waktu setiap hari nya. Tapi untuk tahun ini tidak demikian adanya. Shalat di rumah berjamaah dengan istri, itu pun kalau istri tidak halangan. Kalau istri ada halangan, maka shalat berjamaah hanya dengan anak pertama, Kemi. Rasanya rindu lama tidak shalat berjamaah di masjid bersama dengan jamaah lain. Bahkan shalat jum'at pun saya lewatkan shalat bersama keluarga di rumah, bukan di masjid. Ketenangan hati yang biasa diperoleh usai shalat berjamaah di masjid, cukup lama tidak dirasakan kembali. 

Namun dibalik kerinduan ini, ternyata tersimpan satu hikmah besar yang tidak bisa terjadi jika tidak muncul panemi ini. Kebersamaan dengan keluarga. Kesempatan untuk memahami seluk-beluk pasangan dan juga memahami tumbuh kembang anak-anak. Hal itu jelas tidak akan bisa dirasakan jika Covid-19 ini tidak muncul. 

Jadi memang benar Allah yang telah berfirman, bahwa sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan, BERSAMA kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah, . Dan memang benar, kita jadi lebih mudah untuk membersamai anak-anak. Saya sebagai kepala rumah tangga memang sudah seharusnya mengenal tumbuh kenal anak, turun langsung ke lapangan (punya istri) untuk bisa belusukan mengenal warganya. Sehingga keputusan dan tindakan yang dibuat terkait keluarga ini bisa lebih tepat diambil.

Kemudahan-kemudahan ini dapat terjadi karena kita yakin akan janji Allah dalam Qur'annya. Apakah setiap orang menerima kemudahan-kemudahan itu? Ya, hanya saja ada orang yang sadar, ada juga yang tidak sadar. Ada orang yang Allah bukakan pintu hidayah-Nya, ada juga yang Allah tutup. Saya pikir yang perlu kita lakukan untuk bisa melihat kemudahan itu adalah menghilangkan sifat sombong dalam diri, merasa diri serba tahu, tidak menerima perubahan, dan merasa nyaman di zona nyaman. Kita harus mengembangkan kesadaran, bahwa di atas langit masih ada langit. Masih banyak kekurangan dalam diri untuk diperbaiki. Dan kita pun harus yakin, bahwa tidak skenario yang Allah perjalankan melainkan skenario kehidupan itu memang spesial untuk kita. 

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang merasakan kemudahan itu. Aamiin ... aamiin ya Rabbal'alamiin.

Written by: Aditya Rakhmawan

No comments:

Post a Comment