Sunday, May 31, 2020

Variabel bebas dan variabel terikat ... Apa hubungannya dengan perbaikan diri?

Bismillah

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Key melanjutkan pembahasan kemarin, antara target dan evaluasi akan diperkenalkan dengan variabel bebas dan variabel terikat. Dua istilah ini biasa didengar di dunia penelitian. Variabel bebas disebut bebas karena memang bebas memanipulasinya atau ngotak-ngatik nya. Tujuannya untuk apa, dapat informasi tentang variabel terikat. Variabel ini tergantung pada variabel bebasnya, karena itu disebut terikat, karena terikat dengan variabel bebas. 

Contoh penggunaan variabel bebas dan terikat, misalnya saat orang bilang merokok mengakibatkan kanker paru-paru. Maka variabel bebasnya adalah merokok, sedangkan kanker paru-paru adalah variabel terikatnya. Kenapa gitu? Ya karena merokok bisa kita bebas kendalikan, kita bisa merokok atau juga tidak. Sedangkan kanker paru-paru tidak bisa kita kendalikan, kanker ini bergantung (terikat) pada kebiasaan merokok seseorang. Kanker paru-paru gak bisa kita kendalikan atau manipulasi sesuai keinginan kita. 

Eit, gak sampai disitu, ternyata ada beberapa orang korban kanker paru-paru, dia tidak merokok, tapi bisa kena kanker paru-paru. What ..!! Apa yang terjadi??

Nah, ternyata selain faktor rokok, kanker paru-paru juga bisa muncul karena faktor lainnya juga. Misalnya intensitas korban terkena paparan asap kendaraan bermotor.

Waduh, jadi gimana donk? 

Nah, untuk bisa mengetahui apa sih faktor utama penyebab kanker paru-paru, maka kita harus meneliti nya dari variabel bebasnya, yaitu intensitas merokok dan intensitas paparan polusi udara. 

Caranya?

Kalau kita ingin tahu seberapa parah dampak dari merokok terhadap kanker paru-paru, maka kita harus buat orang yang kita teliti hubungan antara merokok dengan kanker paru-paru itu jangan keluar rumah (stay at home), agar tidak ada pengaruh dari polusi udara, tapi disuruh sering merokok (Naudzubillah - cuma contoh yaaa ... Don't try this at home). Lalu dilihat, setelah beberapa lama, ini orang kena kanker paru-paru atau ngga (Busyet deh, ini keterlaluan banget).

Sebaliknya, sampel orang lain, suruh sering keluar, tapi jangan merokok. Bagaimana kecenderungan kanker nya. 

Wai wai wai ... Ini percobaan Frankenstein nih ... >_<

Lain kali ngasih contoh jangan pakai orang ya, tapi pakai mencit (tikus percobaan)

Nah, intinya apa nih? Intinya, kalau kita ingin tau alasan target tercapai atau tidak, kalau kemungkinan penyebabnya ada banyak, misalnya ada lima faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan yang mungkin, maka kita harus coba mengubah-ubah satu faktor, tapi empat faktor lain dibuat tetap dari hari ke hari. 

Dengan cara ini, maka evaluasi agenda target pun akan berjalan dengan baik dengan hasil evaluasi yang lebih akurat. Bukan hanya melibatkan emosi dan hawa nafsu belaka saat sedang mengevaluasi diri. 

Selain itu, list aktivitas yang dilakukan setiap hari secara terjadwal akan memperlihatkan seberapa efektif kita dalam mencapai target. Hasil evaluasi dari hari ke hari dari list aktivitas terjadwal itu seharusnya kita bisa tau, hari ini apakah lebih baik dari hari kemarin atau tidak. Tapi jika hari ini kita melakukan list aktivitas yang berbeda dengan hari kemarin, maka evaluasi kurang dapat berjalan dengan baik. Kenapa? Karena evaluasi itu bukan hanya membandingkan antara target dan hasil, tapi juga membandingkan antara hari ini dan hari kemarin, pekan ini dan pekan kemarin, bulan ini dan bulan kemarin, bahkan tahun ini dan tahun kemarin.

Semoga menginspirasi.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Written by: Aditya Rakhmawan

No comments:

Post a Comment