Saturday, May 2, 2020

Wabah Thaun dan Pandemi Covid-19

Zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pernah ada suatu wabah yang melanda negeri Syam, namanya Thaun. Orang yang terkena Thaun, bagian-bagian lunak dari dirinya akan mengalami pembengkakan yang sangat parah dan mematikan, seperti bagian belakang telinga, ketiak, dan ujung hidung. Selain itu pembengkakan ini juga menimbulkan rasa haus yang teramat sangat dan sakit yang luar biasa. Pembengkakan ini pun lama-kelamaan akan menimbulkan nanah. Selain itu diceritakan juga Thaun juga mengakibatkan tubuh menjadi hitam, hijau, atau abu-abu.

Rasulullah sendiri pernah menjelaskan terkait apa itu Thaun setelah Aisyah bertanya, yaitu
"Benjolan yang muncul seperti yang dialami oleh unta, tumbuh di bagian belakang ketiak dan sejenisnya" (HR Ahmad).

Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah mengunjungi negeri Syam. Saat itu negeri Syam sedang dilanda wabah Thaun. Sebelum memasuki negeri itu, Khalifah Umar bertindak bijak dengan melakukan diskusi dengan para sahabatnya. Hadir disitu sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar. Ternyata baik muhajirin maupun anshar banyak terdapat perbedaan pendapat terkait apakah perlu masuk ke negeri itu atau tidak.

Secercah jawaban akhirnya didapatkan dari kalangan pembesar Quraisy yang ikut berhijrah, hanya sedikit saja yang berbeda pendapat dari kalangan ini.

Saat itu keputusan cenderung untuk tidak mendatangi negeri Syam yang saat itu sedang ada wabah Thaun.

Hal cukup penting disini adalah pertanyaan Abu Ubaidah yaitu, "Wahai Amirul Mukminin, apakah ini berarti lari dari takdir Allah?"

Umar menjawab, "Mestinya orang selain engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah. Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan ada dua tempat disitu, yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat gersang, itu pun juga takdir Allah?"

Khalifah Umar dalam hal ini mengambil pilihan untuk menghindar dari Thaun karena melihat dari sisi mana kemaslahatan bisa diperoleh lebih banyak. Tempat gersang merupakan analogi dari negeri Syam yang terkena wabah Thaun. Sedangkan tempat subur merupakan analogi tempat di luar negeri Syam. Memang keduanya bisa saja didatangi, tapi ternyata dampak kebaikan dari mengunjungi kedua tempat itu berbeda jauh.

Ternyata hal ini diperkuat oleh pendapat dari Sahabat Abdurrahman bin Auf yang mengingatkan tentang perkataan Rasulullah, "saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkait Corona Virus Disease (Covid)-19 yang melanda Indonesia sekarang, jika kita memetik pelajaran dari sejarah yang telah dilalui para sahabat dahulu. Saat ada wabah melanda suatu negeri atau suatu wilayah. Maka solusinya adalah jangan mendatanginya, dan orang yang sudah berada di wilayah yang terkena wabah jangan sampai keluar dari wilayah wabah itu. Tapi lakukan upaya mengisolasi diri dari lingkungan sekitar, atau #dirumahaja.



048.023 سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا
Al-Qur'an, 048.023 (Al-Fath [Victory, Conquest])
Text Copied from
DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.9

"Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejah dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (QS. 48:23)

Berdasarkan ayat tersebut, menyatakan bahwa sunnatullah itu tidak akan pernah berubah bahkan sampai kiamat sekalipun. Sunnatullah itu adalah suatu ketetapan Allah yang diperjalankan untuk manusia di muka bumi, dan ketetapan itu masuk akal dan wajar menurut manusia. Oleh karena manusia semenjak zaman nabi Adam sampai sekarang diciptakan dengan modal yang sama, tanah, maka sunnatullah disini termasuk perjalanan sejarah manusia. Sebab perjalanan sejarah manusia dipenuhi dengan karakter-karakter manusiawi yang memiliki hubungan jika maka, atau sebab akibat. 

Wabah yang Allah berikan ini pun merupakan media memperjalankan sunnatullah yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Manusia harus menghadapi dengan cara belajar dari sejarah islam yang dahulu islam di masa ideal-idealnya. Dan menghadapi covid-19 sekarang tidak bisa menggunakan cara umat islam sekarang yang jauh dari ideal. Tapi kita harus menghadapi covid-19 sekarang ini dengan cara umat islam yang ideal, yaitu cara Umar bin Khattab dulu menghadapi wabah Thaun. Jika semua memahami dan mengimplementasikan cara ini dengan kompak, maka wabah covid-19 ini insyaaAllah bisa kita lalui dengan cepat. 

FYI, update virus corona di Indonesia saat ini tertanggal 2 Mei 2020 adalah 10551 orang terkonfirmasi. 8160 orang dalam perawatan.

Informasi ini saya dapatkan dari berbagai sumber.

Semoga bermanfaat.

Written by: Aditya Rakhmawan

Sumber rujukan
  • https://www.harianaceh.co.id/2020/03/18/ini-ciri-ciri-fisik-wabah-penyakit-di-era-umar-bin-khattab/
  • https://islam.nu.or.id/post/read/118797/wabah-thaun-mematikan-itu-mengganas-sepulang-mereka-berkumpul
  • https://sukabumiupdate.com/detail/ragam-berita/internasional/66385-Nabi-Muhammad-Pernah-Bicara-soal-Lockdown-Kala-Wabah-Landa-Madinah
  • https://adjhis.wordpress.com/2012/01/23/apa-yang-dimaksud-dengan-sunnatullah/
  • https://assajidin.com/2018/02/06/apa-yang-dimaksud-sunnatullah-begini-penjelasannya/
  • https://kawalcovid19.id/

No comments:

Post a Comment