Monday, June 1, 2020

Keluarga adalah madrasah pertama seorang anak

Keluarga adalah madrasah awal anak-anak.

Saya setuju dengan pernyataan itu. Beberapa buku parenting pun ada yang mengangkat tentang keluarga sebagai madrasah, misalnya buku "Rumahku Madrasah Pertamaku" oleh penulis Dr. Khalid Ahmad Syantut, serta buku "Satu Atap Lima Madrasah" oleh penulis Kiki Barkiah. Kalau dari pemahaman saya sendiri, pondasi pendidikan anak itu berawal dari keluarga, dari Ayah dan Ibu nya. Artinya pendidikan diluaran sana (di luar keluarga) hanyalah sebagai suplemen, atau kalau diawali pondasi, maka akan ada tiangnya. Maka pendidikan di luar keluarga itu adalah tiangnya, tempat si anak mengekspos dirinya sendiri di lingkungan masyarakat. 


Kemanapun si anak pergi, mereka akan selalu membawa warna dari keluarganya ke lingkungan pergaulan mereka. 


Dengan demikian, kentalnya karakter anak itu bergantung dari pendidikan yang diberikan oleh Ayah dan Ibu nya. Kenapa Ayah dan Ibu? Pendidikan keluarga bukan hanya tanggung jawab Ibu, tapi juga tanggung jawab Ayahnya. Walaupun tidak mesti si Ayah mantengin anaknya 24 jam nonstop. Aktivitas Ayah jelas berbeda dengan aktivitas Ibu. Oleh karena itu, pendidikan yang diturunkan ke si anak pun akan berbeda dari pendidikan yang diturunkan si Ibu. Yang pasti, keduanya akan memberikan warna yang berbeda dalam menumbuhkembangkan karakter anak. 

Hei, anak itu adalah turunan dari Ayah dan Ibu nya kan? Jadi jelas anak itu memiliki karakter dari Ayah dan Ibunya. 

Jadi teringat kata-kata Master Oogway dalam film Kung fu Panda pertama, saat diskusi nya dengan Master Shifuu di atas bukit dekat pohon Peach:

Master Oogway: "The panda will never fulfill his destiny no you yours until you let go of the illusion of control"
Master Shifuu: "Illusion?"
Master Oogway: "yes ... look at this tree shifuu ... I cannot make it blossom when it suits me, nor make it bear fruit before it's time"
Master Shifuu: "but there are things we can control ... I can control when the fruit will fall ... I can control where to plant the seed ... that is no illusion master"
Master Oogway: "Ah yes, but no matter what you do, that seed will grow to be a peach tree, you may wish for an apple or an orange, but you will get a peach"
Master Shifuu: "But a peach cannot defeat Tai Lung"
Master Oogway: "Maybe it can, if you are willing to guide it, to nurture it, to believe in it"


Kesimpulannya, seorang anak itu membawa darah dari Ayah dan Ibunya. Kebaikan dari si Ayah dan si Ibu ada nurun ke si anak. Tapi ingat, fitrah anak itu sebenarnya baik. Ingat tentang suatu Hadits ini:

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani)

Anak itu sebenarnya terlahir bersih, mengarahkan dirinya selalu pada fitrahnya, yaitu pada Allah yang menciptakan. Buktinya, bahkan orang atheis sekalipun yang menyatakan Atheis tak bertuhan, kalau lagi kelelep mah tetep aja minta tolongnya ke Tuhan. Fir'aun yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan, kalau udah tenggelem mah, tetep aja minta tolong nya ke Tuhan Musa. 

Tapi ternyata, kata Master Oogway, kalau orang tuanya tidak mampu guide it and nurture it, and believe in it, atau tidak mampu membimbing dan mengarahkannya, dan meyakinkan akan diri si anak itu ... Maka pondasi diri si anak itu akan rapuh. Rapuh untuk bisa menghadapi pergaulannya di masyarakatnya. Si anak tidak akan memiliki karakter yang kental untuk terjun ke masyarakat, mewarnai lingkungan berdasarkan karakter yang telah tertanam dari Ayah dan Ibu nya. 

Who's fault?

Ayah dan Ibu nya yang tidak menjadikan keluarga sebagai madrasah bagi si anak, untuk mematangkan (nurture) pribadinya, dan meyakini (believe) akan dirinya sendiri. 

Wallahu'alam.

Semoga menginspirasi.

Written by: Aditya Rakhmawan