Wednesday, February 24, 2021

Tentang inkuiri

Sains merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari proses aktif, dinamis, dan eksploratif. Eksploratif disini maksudnya bersifat eksplorasi, atau menjelajah, atau apaaa gitu ...  

Diperoleh dari proses inkuiri yang terus-menerus. Proses inkuiri dapat dianggap sebagai proses penyelidikan. Dan konsep-konsep itu dikonstruksi melalui inkuiri atau penyelidikan.

Dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan melalui belajar, tidak cukup hanya dengan menghapal dan mengingat. Tapi dibutuhkan juga kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir itu bisa dilatih dengan proses inkuiri. Semakin sering siswa melakukan inkuiri, maka siswa akan semakin mampu meningkatkan kemampuan berpikirnya. Sampai akhirnya ia akan mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Siswa yang sudah mampu mencapai HOTS, maka ia akan semakin mudah untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

Empat karakter dari HOTS: 

  1. Koneksi
  2. Desain
  3. Penyelidikan
  4. Konstruksi pengetahuan

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dibutuhkan untuk bisa mengkonstruksi pengetahuan. Hal itu dapat dilihat pada karakter keempat. Sedangkan pada karakter ketiga, itu cenderung inkuiri. 

Inkuiri adalah suatu proses untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan melalui suatu proses. Proses nya bisa berupa observasi, ataupun eksperimen. Kegiatan-kegiatan inkuiri meliputi pengangkatan rumusan masalah, observasi atau menyelidiki, mendapatkan data, menganalisis, lalu mengkomunikasikannya (Depdiknas, 2008 dalam makalah Henny).

National Research Council menjelaskan lebih lengkap lagi, dimana inkuiri merupakan kegiatan penemuan atau penelitian mulai dari kegiatan menemukan masalah, hingga mendapatkan solusinya dan mengkomunikasikannya. 

Tingkat kesulitan dalam pembelajaran inkuiri menurut Trowbridge, et al (1990): 

  1. Pembelajaran penemuan (discovery learning). Guru menyusun dan mengajukan masalah, merancang proses penemuan, dan siswa diminta untuk menjalankan proses pemecahan masalahnya dan menurut Trowbridge dan Bybee (1990), siswa diperbolehkan jika ternyata menemukan hasil alternatif.
  2. Inkuiri terbimbing (guided inquiry). Guru menyusun dan mengajukan permasalahan, tapi siswa yang menentukan sendiri rancangan pemecahan permasalahannya hingga ditemukan solusi nya.
  3. Tahap inkuiri terbuka (open inquiry). Siswa sepenuhnya mandiri dalam memecahkan permasalahan. Guru hanya mengangkat konteks permasalahan atau kata kunci saja kepada siswa. 

Wenning (2005) memaparkan level  pelaksanaan inkuiri secara pedagogik pendidikan  sebagai berikut: 

  1. Discovery learning (pembelajaran penemuan). Ini merupakan akar dari pembelajaran inkuiri, pembelajaran ini lebih menekankan kepada siswa mengkonstruksi pengetahuannya berdasarkan pengalaman belajarnya. 
  2. Interactive demonstration (demonstrasi interaktif). Guru memperagakan suatu alat, memanipulasinya, lalu berdiskusi dengan siswa akan berbagai fenomena yang mereka amati.
  3. Inquiry lesson (pembelajaran inkuiri). 
  4. Inquiry labs (laboratorium inkuiri). Ada tiga jenis inkuiri lab: 
  5. a. Guided inquiry (inkuiri terbimbing). Guru membimbing proses pembelajaran siswa dengan serangkaian pertanyaan sampai mereka bisa menemukan solusi permasalahannya.

    b. Bounded inquiry (inkuiri terbatas). Sasaran dari praktikum yang akan dilakukan siswa sudah ditetapkan sebelumnya oleh guru. 

    c. Free inquiry (inkuiri bebas). Siswa dibebaskan untuk mengidentifikasi permasalahan dan membuat rancangan eksperimen sendiri.

  6. Hypothetical inquiry (inkuiri hipotetik). Siswa diminta untuk berhipotesis .

Beberapa kemampuan yang dibutuhkan dalam pembelajaran inkuiri: 

  1. Merumuskan permasalahan
  2. Merumuskan hipotesis
  3. Mengumpulkan data
  4. Analisis data
  5. Membuat kesimpulan